JAYAPURA-NUSANTARAPOST.ID-Mengawali tahun 2026, kondisi ekonomi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua menunjukkan tren yang menarik. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), hampir seluruh provinsi di wilayah tersebut mengalami deflasi secara bulanan, kecuali Provinsi Papua Selatan yang justru mencatatkan inflasi.
Deputi Direktur KPw BI Papua, Warsono, mengungkapkan bahwa Papua Selatan menjadi satu-satunya wilayah yang mengalami inflasi sebesar 1,06% (mtm). Lonjakan ini dipicu oleh menipisnya stok pangan lokal setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, serta faktor cuaca yang tidak menentu.
Secara agregat, inflasi tahunan pada Januari 2026 memang menunjukkan peningkatan. Hal ini disebabkan oleh low-base effect dari diskon tarif listrik pada Januari 2025 serta kenaikan harga emas global.
Berikut adalah potret inflasi di masing-masing provinsi:
• Provinsi Papua: Mengalami deflasi -0,36% (mtm). Penurunan harga utamanya didorong oleh komoditas Angkutan Udara (andil -0,40%), Buah Pinang, Tomat, dan Cabai Rawit. Namun, harga Kangkung dan Emas Perhiasan tercatat masih meningkat.
• Provinsi Papua Selatan: Mencatat inflasi 1,06% (mtm). Komoditas Ikan Mujair menjadi penyumbang utama (andil 0,55%), disusul Emas Perhiasan dan Kangkung. Sementara Angkutan Udara justru mengalami deflasi di wilayah ini.
• Provinsi Papua Tengah: Alami deflasi -0,29% (mtm). Cabai Rawit menjadi pemicu deflasi terdalam (andil -0,57%). Di sisi lain, harga Emas Perhiasan dan Bawang Merah masih menunjukkan kenaikan.
• Provinsi Papua Pegunungan: Mencatat deflasi tipis -0,05% (mtm). Serupa dengan Papua Tengah, Cabai Rawit menjadi motor utama deflasi di sini. Namun, harga Ketela Rambat dan Sawi Hijau terpantau naik.
Menanggapi dinamika ini, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi melalui strategi 4K untuk menjaga ekspektasi masyarakat dan stabilitas harga:
1. Keterjangkauan Harga: Menyusun kalender tanam dan panen untuk mendukung Gerakan Pangan Murah (GPM). 2. Ketersediaan Pasokan: Melakukan pemetaan kelompok tani potensial di seluruh Papua dan DOB.
3. Kelancaran Distribusi: Menyalurkan bantuan sarana prasarana distribusi pangan bagi petani di Kab. Jayawijaya.
4. Komunikasi Efektif: Memperkuat koordinasi TPID menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026 serta edukasi publik melalui media sosial mengenai hilirisasi pangan.
Secara umum, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi perhatian utama karena keterbatasan pasokan pangan lokal di tengah permintaan tahun baru yang masih terasa pengaruhnya. (Redaksi)








