DEKAI-NUSANTARAPOST.ID-Bupati Yahukimo, Didimus Yahuli, meresmikan Kantor Klasis Dekai Kota dalam sebuah upacara yang dihadiri oleh tokoh agama dan masyarakat setempat. Dalam pidatonya, Bupati Yahuli menyampaikan pesan tegas mengenai tata kelola bantuan pembangunan gereja dan tanggung jawab bersama dalam menjaga keamanan daerah.
Bupati Yahuli menegaskan komitmennya untuk mendukung pembangunan gereja di Yahukimo, namun ia menekankan bahwa penyaluran bantuan harus melalui prosedur yang resmi dan transparan.
“Bantuan harus melalui jalur umum, disertai proposal, dan perencanaan yang jelas, agar dapat dibantu secara bertahap,” ujar Bupati.
Ia mewanti-wanti bahwa mekanisme yang benar, dari kas ke rekening, penting demi menjaga integritas dan menghindari masalah hukum, baik bagi dirinya maupun stafnya. Ia secara gamblang menolak memberikan bantuan “orang per orang” karena dapat memicu masalah pertanggungjawaban di kemudian hari.
Lebih lanjut, Bupati Yahuli menyoroti situasi keamanan di Dekai yang ia sebut memprihatinkan, terutama terkait insiden pertumpahan darah di tempat-tempat sakral di kalangan GIDI. Ia menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat, mulai dari RT, RW, pemuda, hingga gembala dan wakil gembala, untuk mengambil peran aktif.
“Keamanan kota ini ada di tangan setiap warga. Jangan takut memberikan informasi, kesaksian, atau laporan terkait pihak atau kelompok yang melakukan kejahatan,” tegasnya.
Menurutnya, tindakan menahan atau membawa pelaku kejahatan ke penjara adalah tindakan yang baik agar pelaku dapat bertobat dan kejahatan dapat disingkirkan dari kota.
Selain isu keamanan, Bupati Yahuli juga menyinggung masalah etika dan kebersihan di ruang publik. Ia mengungkapkan rasa prihatin melihat sampah pinang berserakan di Bandara Dekai. Ia mengingatkan kembali larangan keras dari GIDI untuk tidak makan pinang di area publik, sebab bandara adalah “wajah” Yahukimo.
Untuk mengatasi masalah ini, ia mendesak GIDI untuk mengajukan rekomendasi kepada pemerintah dan DPRD agar dibuat peraturan daerah yang dapat menghukum, melarang, mengintervensi, dan mengatur masyarakat demi ketertiban.
Terakhir, Bupati Yahuli memberikan imbauan khusus terkait kegiatan keagamaan. Ia meminta agar tarian wisisi tidak lagi digunakan dalam acara gereja karena dianggap menciptakan suasana yang berbeda dan tidak baik.
Ia mengajak jemaat untuk lebih fokus pada doa yang rinci dan spesifik demi memohon berkat Tuhan, khususnya dalam hal peningkatan penghasilan dan penambahan anggaran bagi daerah.
Bupati Didimus Yahuli mengakhiri pidatonya dengan mengajak semua pihak untuk terus berdoa dan bersatu menjaga ketertiban, seraya memuji Tuhan atas stabilitas yang masih terjaga di tengah keterbatasan anggaran. (Redaksi)







