JAYAPURA-NUSANTARAPOST.ID-Kepolisian Daerah (Polda) Papua bersama unsur pemerintah dan kelompok tani menggelar aksi panen raya jagung di salah satu perkebunan di Kota Jayapura. Program ini merupakan bagian dari upaya ketahanan pangan yang digalakkan di wilayah Papua.
Kapolda Papua, Irjen Pol. Patrige Renwarin mengungkapkan bahwa dari total 21 kabupaten/kota di Papua, baru beberapa wilayah yang bisa melaksanakan panen karena kondisi geografis yang menantang. Untuk tahap ini, panen raya baru terlaksana di lima wilayah kabupaten/kota dengan total lahan siap panen seluas 13 hektare.
Adapun lima wilayah tersebut meliputi Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Jayapura (Sentani), Kota Jayapura, Kabupaten Keerom, dan Kabupaten Merauke.
“Jumlah yang dipanen saat ini jika dibandingkan dengan kuartal yang sama di tahun 2025 mengalami peningkatan yang sangat signifikan, yaitu meningkat kurang lebih 200-an persen. Dari yang sebelumnya hanya menghasilkan 17 ton, sekarang melonjak menjadi 64 ton,” ujar Irjen Pol. Patrige Renwarin saat memberikan keterangan kepada awak media usai panen bersama.
Kapolda mengapresiasi kerja keras seluruh pihak yang terlibat, mulai dari para petani, stakeholder, hingga dukungan penuh dari pemerintah provinsi maupun pemerintah kota. Ia berharap target yang telah ditentukan oleh Kementerian, Mabes Polri, dan Pemerintah Provinsi dapat tercapai di masa mendatang.
Ketika ditanya mengenai alur penyerapan hasil panen tersebut, Irjen Pol. Patrige Renwarin menegaskan bahwa seluruh hasil panen langsung diserap oleh pemerintah melalui Badan Urusan Logistik (Bulog).
“Itu langsung pemerintah, jadi nanti setelah dipanen akan dikirim ke gudang (Bulog). Langsung diterima, semuanya diterima,” tegasnya.
Program ini berjalan melalui kerja sama erat dengan para petani dan kelompok tani yang berada di bawah binaan Dinas Pertanian setempat. Kapolda menjelaskan bahwa seluruh hasil penjualan akan dikembalikan kepada kelompok tani untuk dikelola secara mandiri.
“Kita bekerja sama dengan kelompok tani yang merupakan binaan Dinas Pertanian. Mereka yang bekerja, semua hasilnya kembali ke mereka. Nanti mereka juga yang memanajemen hasilnya untuk kemudian dikelola kembali sebagai modal menanam ulang. Begitu terus bergulir,” pungkasnya. (Redaksi)







