ASBS Desak Pencopotan Direktur RS Yowari Pasca Tragedi Ibu Hamil

SENTANI-NUSANTARAPOST.ID-Sejumlah masyarakat adat Sentani yang tergabung dalam Aliansi Sentani Bersatu Sejahtera (ASBS) menggelar aksi unjuk rasa di halaman Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Jayapura pada Selasa (25/11) siang. Aksi ini menuntut tindakan tegas dewan terkait kematian tragis Irene Sokoy, seorang ibu hamil yang meninggal dunia bersama bayinya setelah diduga kuat ditolak oleh beberapa rumah sakit di Jayapura.

Massa ASBS menyuarakan kekecewaan mendalam atas buruknya layanan kesehatan di Kabupaten Jayapura, menilai insiden yang menimpa Irene Sokoy sebagai bukti kegagalan manajemen rumah sakit dalam penanganan kegawatdaruratan, khususnya bagi ibu hamil.

Ketua ASBS, John Maurits Suebu, secara lantang mendesak:

• Pencopotan Direktur RSUD Yowari karena dinilai bertanggung jawab penuh atas lemahnya koordinasi medis dan buruknya pelayanan.

• Perbaikan menyeluruh manajemen pelayanan RS Yowari dengan mengutamakan keselamatan manusia.

• Peningkatan fasilitas kesehatan dan penambahan dokter spesialis oleh Pemerintah Daerah (Pemda).

• Penerapan denda adat yang wajib dibayarkan oleh Direktur RS Yowari kepada keluarga korban sebagai bentuk pertanggungjawaban.

“Kami melihat RSUD Yowari seperti kantor pencari kerja, bukan melayani manusia tetapi harus ada surat lengkap dulu baru dilayani. Akibatnya anak kami harus meninggal,” kritik John Maurits Suebu.

Menanggapi tuntutan ini, Ketua DPRK Jayapura, Rudy Bukanaung, memastikan bahwa kasus ini telah menjadi atensi serius dari Gubernur dan Bupati.

• Rapat Dengar Pendapat (RDP): Komisi C DPRK yang membidangi kesehatan telah mengadakan RDP dengan pihak-pihak terkait.

• Transparansi: Rudy berjanji hasil RDP akan disampaikan secara terbuka kepada masyarakat untuk memastikan penanganan kasus berjalan tuntas.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Papua telah menyatakan akan melaksanakan audit maternal untuk menelusuri penyebab resmi kematian Irene. Gubernur Papua, Mathius Fakhiri, juga telah menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban dan menegaskan bahwa evaluasi terhadap pimpinan rumah sakit akan segera dilakukan.

Tragedi ini bermula pada Minggu (16/11/2025) ketika Irene Sokoy mulai merasakan kontraksi dan dibawa ke RSUD Yowari. Pihak keluarga menyebutkan pelayanan di RSUD Yowari sangat lambat dan tidak ada dokter kandungan yang siaga saat itu. Setelah menunggu lama untuk proses rujukan, keluarga membawa Irene ke sejumlah rumah sakit lain di Jayapura, namun disebut ditolak dengan berbagai alasan, termasuk ruang penuh dan permintaan uang muka. Kondisi Irene memburuk dan ia dinyatakan meninggal dunia bersama bayinya pada Senin (17/11/2025) dini hari saat dalam perjalanan menuju RSUD Dok II. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *