Inflasi Papua dan 3 DOB Tetap Terjaga pada April 2026, Ini Komoditas Pemicunya

JAYAPURA-NUSANTARAPOST.ID-Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat seluruh provinsi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua, termasuk tiga Daerah Otonomi Baru (DOB), mengalami inflasi pada April 2026. Plh. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, David Sipahutar, menyatakan bahwa laju inflasi bulanan ini tetap terjaga seiring dengan normalisasi permintaan masyarakat pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri. Meskipun demikian, angka tersebut sedikit meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar avtur dan BBM non-subsidi, serta belum masuknya periode panen raya lokal komoditas hortikultura.

“Rilis inflasi Badan Pusat Statistik bulan April 2026 mencatat seluruh provinsi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua mengalami inflasi,” kata David Sipahutar dalam keterangan tertulisnya yang ditandatangani di Jayapura. 

Ia menambahkan bahwa perkembangan inflasi di masing-masing wilayah menunjukkan angka dan komoditas pemicu yang bervariasi.

Untuk Provinsi Papua, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,98% (mtm), tahun berjalan 1,39% (ytd), dan tahunan sebesar 3,80% (yoy). Menurut David Sipahutar, peningkatan harga pada komoditas ikan tuna, angkutan udara, dan tomat menjadi pendorong tertinggi dengan andil masing-masing sebesar 0,46% (mtm), 0,32% (mtm), dan 0,13% (mtm). Di sisi lain, laju inflasi di wilayah ini tertahan oleh penurunan harga daging ayam ras, emas perhiasan, dan buah pinang.

Sementara itu, Provinsi Papua Selatan mengalami inflasi bulanan sebesar 0,94% (mtm), tahun berjalan 2,98% (ytd), dan tahunan 3,34% (yoy). Komoditas utama yang mendorong inflasi di daerah ini adalah angkutan udara, sawi hijau, dan kangkung. 

Laju inflasi di Papua Selatan berhasil tertahan berkat deflasi pada komoditas emas perhiasan, cabai merah, dan ikan mujair.

Untuk wilayah Provinsi Papua Tengah, angka inflasi bulanan berada di level 0,21% (mtm), tahun berjalan 0,16% (ytd), dan tahunan 1,53% (yoy). David Sipahutar menyebutkan bahwa inflasi di Papua Tengah didorong oleh kenaikan harga bawang merah, tomat, dan angkutan udara. Namun, laju kenaikan tersebut tertahan oleh penurunan harga pada komoditas cabai rawit, emas perhiasan, dan daging ayam ras.

Terakhir, Provinsi Papua Pegunungan mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,77% (mtm), tahun berjalan 3,81% (ytd), dan tahunan mencapai 4,89% (yoy).

Peningkatan harga komoditas angkutan udara, tomat, dan beras menjadi penyumbang tertinggi inflasi di wilayah pegunungan ini. Sebaliknya, penurunan harga ketela rambat, telur ayam ras, dan emas perhiasan menjadi faktor penahan laju inflasi di sana.

Guna menjaga stabilitas harga ke depan, David Sipahutar menegaskan bahwa Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dan kolaborasi bersama mitra kerja strategis di seluruh tanah Papua melalui empat pilar utama.

Langkah pertama dilakukan melalui strategi Keterjangkauan Harga (K1) dengan melaksanakan Gerakan Pangan Murah (GPM) secara berkala bersama pemerintah daerah dan Bulog. Selain itu, strategi Ketersediaan Pasokan (K2) dan Kelancaran Distribusi (K3) diimplementasikan dengan memberikan dukungan sarana prasarana serta fasilitas koordinasi kepada kelompok tani di Papua Tengah untuk mengatasi hambatan logistik komoditas hortikultura. 

Terakhir, melalui Komunikasi Efektif (K4), edukasi dan literasi mengenai stabilisasi harga terus digalakkan, termasuk menyasar kalangan mahasiswa di wilayah kerja KPw BI Provinsi Papua. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *