Peringati Harkitnas, Yayasan Colo Sagu Nusantara Gelar Bincang-Bincang Sagu Menuju FCS III 2026

JAYAPURA-NUSANTARAPOST.ID-Momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 yang jatuh pada tanggal 20 Mei 2026 menjadi panggung penting bagi kebangkitan pangan lokal di Tanah Papua. Bertempat di Taman Imbi, Kota Jayapura, Yayasan Colo Sagu Nusantara resmi menggelar acara Bincang-Bincang Sagu sebagai rangkaian Pra-Event menuju Festival Colo Sagu (FCS) III 2026.

Acara yang mengusung tema “Kebangkitan Pangan Lokal” ini dihadiri oleh berbagai elemen penting, mulai dari perwakilan Pemerintah Provinsi Papua, Penjabat Walikota Jayapura Abisai Rollo, akademisi Universitas Cenderawasih, Kanwil Kemenkumham Papua, Polresta Jayapura Kota, hingga pegiat lingkungan, pelaku UMKM, dan Mama-Mama Papua.  

Ketua Panitia sekaligus Ketua Yayasan Colo Sagu Nusantara, Michael Jhon Yarisetouw, S.Si., dalam sambutannya mengungkapkan keprihatinan mendalam terkait kondisi ketahanan pangan di Papua. Berdasarkan data Badan Pangan Nasional rilis Maret 2026, sebanyak 42,11% atau 16 provinsi di Indonesia masih berada dalam kategori waspada pangan, termasuk Provinsi Papua dan wilayah pemekarannya.

“Ini bukan angka statistik semata; ini adalah kenyataan yang menyentuh kehidupan kita setiap hari,” ujar Michael Jhon Yarisetouw di hadapan para undangan.

Ia menambahkan bahwa ketergantungan Papua terhadap pasokan karbohidrat luar daerah (khususnya beras) masih sangat tinggi. Padahal, Papua memiliki potensi luar biasa dengan bentangan lahan sagu sekitar 5,2 juta hektar, yang merupakan 85% dari total cadangan sagu dunia.

“Sagu mampu menghasilkan 20 hingga 40 ton pati kering per hektar per tahun, jauh melampaui produktivitas beras dan jagung. Sagu tumbuh tanpa pupuk kimia, tahan banjir, menyimpan karbon, dan menjaga biodiversitas. Sagu adalah jawaban alam Papua untuk ketahanan pangan kita,” tegas Michael.

Gerakan Colo Sagu sendiri diinisiasi sejak tahun 2023. Memasuki tahun ketiga, gerakan ini konsisten berdiri di atas tiga pilar utama: Ketahanan Pangan, Kearifan Budaya Lokal, dan Keberlanjutan Lingkungan Hidup (Sustainability).

Melalui filosofi “Kitorang Jaga Sagu-Sagu Jaga Kitorang”, Michael mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali melirik potensi lokal ini. Menurutnya, menjaga ekosistem dan budaya pengolahan sagu secara otomatis akan menjaga ketahanan pangan, ekonomi, dan martabat budaya orang Papua.

“Sagu tidak membutuhkan kita untuk menyelamatkannya, sagu sudah hadir di tanah Papua jauh sebelum kita ada. Justru kitalah yang membutuhkan sagu,” tuturnya.  

Bincang-Bincang Sagu yang dimaknai sebagai ruang “Bicara Saya Berguna” ini sengaja menghadirkan narasumber lintas sektor—mulai dari legislatif, birokrasi, tetua kampung adat, hingga ahli antropologi.

Tujuannya adalah merumuskan rekomendasi konkret dan mematangkan peta jalan menuju acara puncak Festival Colo Sagu III yang akan digelar pada 19–21 Juni 2026 mendatang di Kota Jayapura.

Pada festival ketiga nanti, tema yang diangkat adalah “Sagu Menghidupi: Dari Hutan ke Meja, dari Tradisi ke Industri”. Melalui tema ini, panitia ingin menegaskan bahwa sagu bukan lagi sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan ekonomi masa depan Papua. Selain diskusi, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan Kompetisi Menulis Essay Nasional bertema “Sagu adalah ‘KITA'”.

Di akhir sambutannya, Michael menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh mitra strategis dari jajaran pemerintah hingga aparat keamanan yang terus mendukung gerakan #AyoMakanSagu ini. Ia berharap kegiatan malam ini menjadi benih semangat bagi kebangkitan pangan lokal Papua yang nyata. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *