JAYAPURA-NUSANTARAPOST.ID-Perum Bulog Kantor Wilayah Papua terus berkomitmen untuk mengawal keberlanjutan hasil panen para petani di Papua, khususnya di wilayah lumbung pangan Merauke. Bulog menegaskan fokus utamanya adalah memastikan beras hasil produksi lokal dapat terserap maksimal guna menjaga kestabilan harga di tingkat petani.
Kepala Bulog Papua, Ahmad Mustari, menyampaikan bahwa pihaknya berfokus pada realisasi penyerapan komoditas yang masuk langsung ke gudang Bulog tanpa membedakan latar belakang metode pertanian yang diterapkan di lapangan.
“Pada prinsipnya, realisasi yang harus masuk gudang, berapa itu yang kita laporkan. Kami tidak masuk ke ranah proses teknis di luar, apakah itu petani modern atau petani yang sudah lama bercocok tanam. Intinya, pada saat panen, Bulog siap menyerap,” tegas Ahmad Mustari.
Ia menambahkan, langkah penyerapan ini sangat krusial untuk melindungi para petani dari potensi anjloknya harga saat musim panen tiba.
“Intinya kita support, jangan sampai harga gabah maupun harga beras di wilayah petani jatuh di bawah harga standar. Itu yang paling penting kita jaga,” lanjutnya.
Hingga saat ini, realisasi penyerapan beras oleh Bulog di wilayah Merauke telah mencapai 3.774 ton. Meski demikian, angka tersebut masih terbilang jauh dari target penyerapan tahunan yang ditetapkan perusahaan. Realisasi Saat Ini: 3.774 Ton, Target Hingga Desember: 27.000 Ton
Menanggapi tantangan target yang masih cukup besar hingga akhir tahun, pihak Bulog terus melakukan langkah-langkah proaktif di lapangan.
“Target kita sampai Desember mencapai 27.000 ton, jadi memang masih cukup jauh. Oleh karena itu, teman-teman di lapangan terus melakukan upaya pemantauan (monitoring) langsung ke tingkat petani. Jika ada pasokan, tetap akan masuk ke gudang Bulog,” jelasnya.
Ahmad Mustari juga optimistis bahwa hasil panen petani Merauke akan tetap bermuara ke Bulog, mengingat efisiensi logistik daerah tersebut. Menurutnya, secara ekonomis beras Merauke akan sulit dikirim keluar daerah seperti Pulau Jawa karena pertimbangan biaya pengangkutan (ongkos angkut) yang tinggi.
Dengan pemantauan yang intensif, Bulog Papua berharap target penyerapan 27.000 ton di akhir tahun dapat tercapai sekaligus menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di Tanah Papua. (Redaksi)







