Inflasi Mei 2026 di Papua dan 3 DOB Terjaga, Avtur Naik Jadi Pemicu Utama

JAYAPURA-NUSANTARAPOST.ID-Badan Pusat Statistik (BPS) resmi merilis data inflasi untuk wilayah Provinsi Papua dan tiga Daerah Otonomi Baru (DOB) periode Mei 2026. Secara umum, kondisi inflasi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Papua tersebut dinilai tetap terjaga dalam sasaran target nasional.

Plh. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, David Sipahutar, mengungkapkan bahwa pergerakan harga di empat provinsi tersebut menunjukkan tren yang bervariasi. Dua provinsi mengalami inflasi, sementara dua provinsi lainnya justru mengalami deflasi.

“Provinsi Papua Tengah mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,52% (mtm), disusul oleh Provinsi Papua Pegunungan yang mengalami inflasi sebesar 0,48% (mtm),” ujar David dalam keterangan resminya yang dirilis di Jayapura.

Sebaliknya, penurunan harga atau deflasi terdalam terjadi di Provinsi Papua sebesar -0,68% (mtm), diikuti oleh Provinsi Papua Selatan yang mencatat deflasi senilai -0,50% (mtm).

Pasokan Pangan Lokal Melimpah, Tarif Tiket Pesawat Melonjak

Terjaganya stabilitas harga di tanah Papua bulan ini sangat didukung oleh faktor cuaca yang kondusif. Kondisi ini membuat pasokan pangan lokal melimpah, khususnya komoditas seperti cabai rawit dan aneka sayuran (kangkung, bayam, dan sawi hijau).

Kendati demikian, tekanan inflasi terbesar justru datang dari sektor transportasi. Kebijakan penyesuaian harga bahan bakar non-subsidi, khususnya avtur, berimplikasi langsung pada melonjaknya tarif angkutan udara di seluruh wilayah Papua dan tiga DOB lainnya.

Rincian Kondisi Ekonomi per Provinsi (Mei 2026)

1. Provinsi Papua (Deflasi: -0,68% mtm)

 Inflasi Tahunan: 2,79% (yoy) | Tahun Berjalan: 0,70% (ytd)

 Penyebab Deflasi: Penurunan harga ikan tuna (andil -0,67%), ikan cakalang (-0,17%), dan cabai rawit (-0,14%).

 Pendorong Inflasi: Kenaikan harga tomat (andil 0,40%), telepon seluler (0,05%), dan buncis (0,05%).

2. Provinsi Papua Selatan (Deflasi: -0,50% mtm)

 Inflasi Tahunan: 2,17% (yoy) | Tahun Berjalan: 2,47% (ytd)

 Penyebab Deflasi: Penurunan harga cabai rawit (andil -0,32%), kangkung (-0,23%), dan sawi hijau (-0,13%).

 Pendorong Inflasi: Kenaikan harga ikan layang (0,06%), tomat (0,06%), dan daging ayam ras (0,04%).

3. Provinsi Papua Tengah (Inflasi: 0,52% mtm)

 Inflasi Tahunan: 2,05% (yoy) | Tahun Berjalan: 0,68% (ytd)

 Pendorong Inflasi: Kenaikan tarif angkutan udara (andil 0,10%), beras (0,09%), dan tahu mentah (0,08%).

 Penahan Inflasi: Penurunan harga cabai rawit (-0,18%), bawang merah (-0,13%), dan tomat (-0,11%).

4. Provinsi Papua Pegunungan (Inflasi: 0,48% mtm)

 Inflasi Tahunan: 4,44% (yoy) | Tahun Berjalan: 4,32% (ytd)

 Pendorong Inflasi: Kenaikan harga tomat (andil 0,41%), daging ayam ras (0,11%), dan angkutan udara (0,10%).

 Penahan Inflasi: Penurunan harga cabai rawit (-0,72%), telur ayam ras (-0,03%), dan talas/keladi (-0,02%).

Strategi BI dan Pemda Jaga Stabilitas Lewat Program “4K”

Guna memastikan inflasi tetap terkendali, Bank Indonesia bersama dengan Pemerintah Daerah dan mitra strategis terus memperkuat sinergi melalui strategi 4K:

1 Keterjangkauan Harga (K1): Menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) secara berkala di seluruh wilayah Papua dan DOB bersama Perum BULOG.

2 Ketersediaan Pasokan (K2): Menyalurkan bantuan sarana dan prasarana produksi tani untuk kelompok tani di Papua Tengah dan Papua Selatan.

3 Kelancaran Distribusi (K3): Memberikan dukungan logistik dan sarana distribusi kepada petani di Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

4 Komunikasi Efektif (K4): Melakukan edukasi publik via media sosial serta menggelar Capacity Building TPID. Dalam agenda ini, BI Papua menghadirkan jawara TPID Awards 2025 (Jawa Barat, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Tasikmalaya) untuk berbagi strategi yang bisa direplikasi oleh para petani lokal. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *