JAYAPURA-NUSANTARAPOST.ID-Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Papua terus berkomitmen menjaga keberadaan dan kualitas uang Rupiah hingga ke pelosok Nusantara. Sepanjang periode April hingga September 2026, BI Papua telah menggelar sebanyak 25 kali layanan Kas Keliling Luar Kota (KKLK) di wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T) yang mencakup 16 kabupaten di empat provinsi.
Layanan KKLK ini diselenggarakan di Provinsi Papua, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan sebagai bagian dari penerapan Clean Money Policy. Kebijakan ini bertujuan memastikan ketersediaan uang Rupiah yang cukup, pecahan yang sesuai, tepat waktu, serta layak edar bagi seluruh masyarakat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Warsono, menegaskan bahwa masyarakat di pedalaman, pegunungan, maupun pulau terluar berhak mendapatkan Rupiah dengan kualitas yang sama seperti masyarakat perkotaan. Pihaknya terus hadir langsung di distrik-distrik, sejauh dan seberat apa pun medannya.
Selama pelaksanaan KKLK, antusiasme warga terlihat dari tingginya angka penukaran uang tidak layak edar (UTLE). Penukaran terbanyak tercatat di Kota Ilaga (Kabupaten Puncak) sebanyak 113.882 lembar, Sorendiweri (Kabupaten Supiori) sebanyak 109.654 lembar, dan Mindiptana (Kabupaten Boven Digoel) sebanyak 106.585 lembar. Tingginya jumlah UTLE di wilayah tersebut dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan uang baru dari perbankan setempat, kelembapan udara yang tinggi, serta perilaku masyarakat dalam menyimpan dan merawat uang tunai yang masih perlu ditingkatkan.
Secara rinci, layanan KKLK terlaksana 10 kali di Provinsi Papua yang meliputi Kabupaten Keerom, Mamberamo Raya, Supiori, dan Waropen. Di Provinsi Papua Pegunungan, layanan dilakukan sebanyak 4 kali di Kabupaten Pegunungan Bintang, Lanny Jaya, Tolikara, dan Mamberamo Tengah. Sementara di Provinsi Papua Selatan terlaksana 6 kali meliputi Kabupaten Boven Digoel, Asmat, dan Mappi. Adapun di Provinsi Papua Tengah terlaksana 5 kali mencakup Kabupaten Puncak, Puncak Jaya, Paniai, Deiyai, dan Mimika.
Guna menembus kondisi geografis Papua yang beragam, BI Papua mengombinasikan jalur udara, darat, serta laut dan sungai. Pada tahun 2026, BI Papua menerapkan pola rute multimoda dengan memanfaatkan Bandara Mozes Kilangin di Timika sebagai bandara penghubung (hub) menuju titik-titik layanan di Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Pola ini terbukti mempersingkat waktu terbang, menekan biaya operasional, sekaligus meningkatkan keselamatan tim.
Selain menyalurkan uang layak edar, BI Papua mengimbau masyarakat untuk senantiasa merawat uang Rupiah dengan menerapkan prinsip 5J, yaitu Jangan dilipat, Jangan dicoret, Jangan distapler, Jangan diremas, dan Jangan dibasahi. Masyarakat juga diimbau untuk berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan guna menjaga stabilitas harga di daerah. (Redaksi)












