JAYAPURA-NUSANTARAPOST.ID-Perum Bulog Kantor Wilayah Papua menyiapkan sekitar 43.000 ton beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru), sekaligus menjaga ketersediaan cadangan pangan di wilayah Papua, terutama daerah pegunungan yang menghadapi tantangan distribusi akibat kabut asap.
Pemimpin Perum Bulog Kanwil Papua Chaerul Mazhar di Jayapura, Rabu, mengatakan pihaknya terus mempercepat pengiriman beras dari luar Papua guna memastikan pasokan pangan tetap tersedia hingga akhir tahun.
Langkah tersebut dilakukan menyusul belum optimalnya produksi beras dari Merauke pada 2026, sehingga pemenuhan kebutuhan masyarakat Papua masih memerlukan dukungan pasokan dari luar daerah.
“Dari tambahan pengiriman yang telah dibuka, hampir 30.000 ton beras akan didatangkan ke Papua. Sekitar 25.600 ton di antaranya sudah mulai dikirim menggunakan kapal,” katanya.
Ia menjelaskan, selain pasokan yang saat ini dalam perjalanan, Bulog juga memperhitungkan tambahan sekitar 15.000 ton beras yang diproyeksikan tiba hingga periode Natal dan Tahun Baru.
Dengan memperhitungkan berbagai pengiriman tersebut, total pasokan beras yang dipersiapkan diperkirakan mencapai sekitar 43.000 ton. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan proyeksi kebutuhan beras masyarakat selama periode Nataru yang diperkirakan sekitar 35.000 ton.
Kesiapan stok tersebut menjadi bagian dari upaya Bulog untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan pangan menjelang perayaan Natal dan pergantian tahun. Pada periode tersebut, ketersediaan bahan pangan menjadi perhatian penting, terutama untuk menjaga kelancaran pemenuhan kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Papua.
Chaerul menegaskan, pengadaan beras akan terus disesuaikan dengan kebutuhan daerah agar ketersediaan stok tetap terjaga. Upaya tersebut juga diarahkan untuk memastikan pasokan dapat menjangkau wilayah yang selama ini bergantung pada distribusi dari luar daerah.
“Kami akan terus mendatangkan beras selama dibutuhkan, khususnya untuk menjaga stok di daerah-daerah pegunungan,” ujarnya.
Menurut dia, distribusi beras di Papua membutuhkan perhatian khusus karena kondisi geografis dan tantangan transportasi dapat memengaruhi kelancaran penyaluran bahan pangan. Karena itu, ketersediaan stok di gudang perlu didukung pengaturan pengiriman yang memadai agar pasokan dapat disalurkan sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
Tantangan distribusi juga menjadi perhatian di wilayah pegunungan yang menghadapi gangguan perjalanan akibat kabut asap. Kondisi tersebut memerlukan kesiapan pasokan agar kebutuhan pangan masyarakat tetap dapat dipenuhi di tengah kendala pengangkutan.
Melalui penambahan pasokan dari luar Papua, Bulog berupaya menjaga kesinambungan distribusi beras sekaligus mengantisipasi kemungkinan meningkatnya permintaan pada akhir tahun.
Selain menjaga ketersediaan stok, langkah pengadaan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat cadangan pangan pemerintah di daerah. Dengan cadangan yang memadai, penyaluran beras diharapkan dapat dilakukan sesuai kebutuhan masyarakat dan kondisi pasokan di masing-masing wilayah.
Bulog Kanwil Papua akan terus memantau perkembangan stok serta realisasi kedatangan beras untuk memastikan kesiapan pasokan hingga akhir 2026. Penyesuaian pengadaan tetap diperlukan agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi secara berkelanjutan, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan akses transportasi.
Dengan persiapan sekitar 43.000 ton beras dan proyeksi kebutuhan sekitar 35.000 ton selama Nataru, Bulog Papua menargetkan ketersediaan beras tetap terjaga menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027. (Redaksi)













